Laman
Sabtu, 30 Juni 2012
Giliran orang Korea ‘melirik’ orang Indonesia
1.Mahasiswa Korea versus Indonesia
Saya pun turut heran membaca sebuah berita yang diturunkan oleh media cetak nasional pada 24 Januari 2012 yang lalu. Kita bisa menyaksikan begitu semaraknya karya seni orang Korea yang banyak digemari pemuda-pemudi Indonesia sekarang ini. Baik itu lagu-lagunya, penyanyinya, maupun film-filmnya yang bahkan sangat laris di pasaran Indonesia. Ada satu hal yang mengejutkan mata dan hati saya. Yaitu sangat besar minat mahasiswa Korea Selatan untuk mempelajari kebudayaan Indonesia. Dan tidak hanya itu saja, tapi juga sampai mengkaji dan meneliti karya-karya sastra modern Indonesia. Wah!
Minat positif dan membangun para mahasiswa Korea itu sangat bertolak belakang dengan minat kaum muda Indonesia. Pemuda Indonesia tak mau ketinggalan lagu-lagu terbaru, penyanyi-penyanyi tampan dan cantik, dan film-film terbaru Korea. Tak tanggung-tanggung sampai meniru gaya orang Korea pun! Pakaiannya, rambutnya, sampai bahasanya. Semua ala Korea. Benar-benar sudah demam Korea. Sedangkan mahasiswa Korea malah berdecak kagum dan bergairah untuk segera mengetahui kebudayaan Indonesia. Kebudayaan kita yang dikenal majemuk dan harmonis. Dan dibingkaikan dalam kesatuan “Bhineka Tunggal Ika”. Sungguh terbalik!
Hingga sekarang banyak orang Indonesia yang menjadikan Korea sebagai destinasi wisatanya. Korea kini menjadi “sesuatu” yang dikagumi oleh orang Indonesia. Korea seolah menyimpan banyak hal yang dapat dinikmati dan dirasakan untuk menghibur kepuasan diri. Karya seni Korea telah berhasil membuat banyak orang Indonesia jatuh cinta. Sampai-sampai telah lupa pula untuk menilik sisi yang lain selain seninya.
2.Malu
Karena itu, malulah kita pada orang Korea, kaum terpelajarnya, yang sedang belajar dan meneliti kebudayaan kita (Indonesia). Malulah karena tidak-bahkan sedikit mengenal sastrawan Indonesia dan karya-karyanya. Malulah karena tidak menjadikan kegiatan membaca sebagai pengembaraan imajinasi dan pengetahuan, melainkan sebagai hiburan. Terakhir, malulah telah meniru hasil seni Korea. Irilah karena mereka “meniru” sastra Indonesia, namun kita meniru seni mereka. Padahal seni kita pun tak kalah mengagumkan. Masih ingat acara pembukaan Sea Games ke-XXVI yang lalu? Semarak kemewahan hasil seni Indonesia memperindah negeri Indonesia dan memesonakan setiap mata yang menyaksikannya.
Guru Bahasa dan Sastra Belanda Minke mengatakan dengan tegas, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tetapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai…”. Hewan tidak mengenal sastra. Ia tak tahu berimajinasi dan berkarya. Hanya manusia yang mampu melakukan itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar